17 Desember 2009...
Seperti yang direncanakan sebelumnya, saya dan beberapa teman-teman alhamdulillah jadi menonton film Sang Pemimpi. Salah satu dari novel Andre Hirata, Tetralogi laskar Pelangi, yang di-filmkan.
Nontonnya, mulai pukul 13.15, tapi diinfokan oleh teman-teman di pukul 12.30. Marah? Tidak!!! Karna saya pun telat di jam stengah satu itu, dan sangat berharap itu hanya ulah teman-teman supaya semuanya ontime, tidak lelet, tidak ngaret... Dan, benar!! harapan saya terkabul... hhehehehe...
Tentang Sang Pemimpi, bukunya sudah kubaca di awal tahun ini. Waktu itu dihadiahkan seorang teman ibuku di 5 Januari-ku. Jadi, sudah lumayan lupa bagaimana isi buku itu. Maklum, saya salah satu dari orang yang pelupa. Dan, mesti membacanya berkali-kali untuk kembali mengingatnya.
Kesempatan untuk membacanya kembali telah ada kemarin, tapi akhirnya saya harus merelakan kesempatan itu kabur dengan sendirinya. Seorang teman yang sama sekali belum pernah membacanya ingin membacanya kali ini. Ya, sudahlah... Kupinjamkan saja buku itu. Lagi pula, kelak akan selalu ada kecewa saat yang kau imajinasikan saat membaca bukunya, jauh beda dengan yang akan dinonton nanti. Jadi, kubiarkan saja diriku lupa akan sebagian ceritanya, supaya bisa menikmati ceritanya nanti dan mengabaikan bukunya.
Tapi, seiring berjalannya film itu, ingatan mengenai jalan ceritanya semakin nyata. Saya teringat kalau film itu bercerita tentang kemuliaan seorang ayah. Sesuatu yang sangat kuhindari sebenarnya. Dan benar saja, tiap kali adegan di film itu menunjukkan kemuliaan ayah Ikal, maka saat itu pula saya akan memalingkan wajah, sekuat mungkin hingga tidak dapat menyaksikan adegannya.
Saya hanya sedang merindukan ayah. Dan apa iya, saya harus menangis disana? terisak disana, untuk sebuah film yang bagi sebagian orang hanya sebagai penghibur semata, sementara bagiku film itu sebagai pembangkit kenangan indahku bersama ayah.
Ayah Ikal yang rela mengayuh sepedanya berkilo-kilo meter, dengan baju safari satu-satunya, hanya demi mengambil raport dari putra kebangaannya. Seorang ayah yang hanya berbicara saat benar-benar dibutuhkan. Bahkan ketika baru bertemu dengan putranya, selama berbulan-bulan, hanya mengucapkan salam, Assalamu Alaikum, ketika harus beranjak pulang, meninggalkan putranya yang akan melanjutkan harinya untuk bersekolah lagi.
Huaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!
kangen bapak!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kamis, 17 Desember 2009
Tentang Sang Pemimpi
Minggu, 13 Desember 2009
Aku memang Pencemburu
Seperti saat seorang sahabat menjauh dariku, hanya karena dia sedang ada perlu dengan sahabat yang lain... aku marah, iri, cemburu...
Seperti saat seseorang memiliki kelebihan daripadaku, hanya karena dia lebih rajin dan lebih giat berusaha... aku masih saja cemburu...
Seperti saat seorang ibu hendak memulai hidupnya dengan orang yang dipilihnya, aku bersikeras menolak, menjauh dari segala kebisingan tentangnya, hanya karena aku takut dia akan melupakanku sebagai anak tersayangnya, seperti seorang ayah yang tak lagi jeli memperhatikanku... iya, aku cemburu!!
Seperti saat seorang kakak tidak lagi mendengar bicaraku, hanya karena kini dia lebih memilih mempercayai teman-temannya dan lelakinya... aku cemburu...
Seperti saat semua keluarga di rumah tak lagi memanjakanku, hanya karena orang termuda telah hadir di tengah kami sejak tujuh tahun lalu... Layaknya anak kecil, aku cemburu...
Aku memang pencemburu. Selalu takut duniaku direbut oleh seorang lainnya. Selalu tak ingin melepaskan yang lain, meski yang baru sudah jelas, pasti, akan tiba dengan sendirinya. Bodohnya aku, aku tak pernah punya usaha atas segala hal yang telah direbut oleh orang lain. Aku hanya membiarkannya. Memaki dalam hati. Makan hati.
Jumat, 11 Desember 2009
Selalu Ada Waktu Untukmu ???
"Selalu ada waktu untukmu..."
Iya, seperti kataku, pada seorang teman kita, saat aku bercerita tentangmu yang tak lagi menghubungiku. Katanya, kau pernah bercerita padanya, tentangku. Tentangmu yang merindukanku, tapi tak mau menghubungiku karena takut mengganggu kesibukanku.
"Selalu ada waktu untukmu..."
Kuminta teman kita itu memberitahumu. Karena memang begitu, memang selalu ada waktu untukmu.
Tapi, mungkin itu dulu. Bukan mungkin karena sebaiknya kupastikan saja. Tak akan ada lagi waktu untukmu, kini... Sebab yang kemarin adalah kesalahan. Dan, jika aku bijak, maka tidak mengulanginya adalah hal yang terbaik.
Maaf, jika aku salah mengartikan semuanya, kemarin... Salah mengartikan hadirku sebagai adikmu. Salah mengartikan sikapku, sikapmu. Salah mengartikan sikapnya, yang tak ingin membahas apapun tentang dirimu, yang pikirku karena tak ada lagi apapun tentang kalian... Padahal, dia tak ingin membahasmu, karena dia sangat merindukanmu. Dan bercerita tentangmu saja, itu sudah menyesakkan dirinya karena tak bisa lagi menemuimu sejak beberapa tahun terakhir hingga beberapa tahun mendatang.
Maaf, jika beberapa hari yang lalu, aku kembali mengingatkanmu tentangku. Padahal, tiga bulan lalu sempat berjanji tak mengulanginya lagi.
Kali ini aku berjanji (lagi). Tak ada lagi tentangmu. Amin. Semoga...
Tentang kucing, terimakasih telah membuatku menyukainya. Meski tanpamu kini, aku akan tetap menyukainya. Terlanjur menyukainya.
Selasa, 01 Desember 2009
Sesak... :)
Meski telah berupaya untuk menjadikanmu tiada
Tapi, ketika melihat itu
Tetap saja ada sesak yang menyelinap
Entahlah...
Mungkin, aku hanya belum siap
Mungkin masih butuh waktu
Dan kuharap, itu tak lama lagi
Ruang dan kesempatan
tak akan lagi menjadi alasan bertemunya kita
Mungkin akan semakin mampercepat waktu itu
Semoga...
Karena sungguh, aku tak sanggup lagi
Memang sesak...
Tapi, tak apalah... :)
Ini pilihan hatiku
Dan ini resiko yang harus diterimanya... :)
Senin, 30 November 2009
Kita Ada Untuk Bercerita
Entah sadar atau tidak. Yg menyatukan kita adalah cerita kita. Cerita atas pengalaman kita.
Tanpa itu, hubungan kita akan biasa saja. Akan datar saja. Mungkin, kita hanya akan bertegur sapa. Itupun jika tak ada ego yg menguasai jiwa kita.
Dari cerita kita, kita bisa saling mengenal. Aku bisa lebih mengenalmu lewat ceritamu, juga dari responmu saat aku bercerita. Begitupun sebaliknya.
Saling bercerita bisa membuat kita lebih dekat. Lebih akrab. Meski kadang ada jenuh yg menyelinap di antaranya. Baik karena isi ceritanya, ataupun respon orang yg mendengar cerita. Karena akan selalu ada jenuh saat kita mendengarkan pengalaman orang lain. Dan, cara kita melawan rasa jenuh itu yg membuat kita terus bertahan. Bertahan ada untuk KITA, AKU, KAMU, DAN MEREKA.
Tapi, jenuh itu lebih baik. Daripada harus menahan hasrat untuk bercerita. Itu juga lebih baik, daripada hidupku hanya kuisi dengan ceritaku, tanpa ada ceritamu dan cerita yg lain. Karna itu sama saja kita hidup di dunia kita sendiri. Dan itu, sama saja dengan egois, menurutku.
Dan jika seseorang berkata, dia tidak akan bercerita lagi. Maka, entahlah masih ada KITA disini atau tidak.
Memang tak ada yg bisa menjamin, KITA akan slalu ada. Tapi, jika kita masih punya cerita. Masih ingin berbagi cerita. Maka, itu salah satu hal dimana kita akan slalu ada. Karena KITA ada untuk berbagi cerita. Aku ada untuk bercerita. Dan aku ada untuk mendengar ceritamu. Entah engkau sama sepertiku atau tidak. Tapi, kuharap, IYA... SEMOGA...
Kamis, 26 November 2009
Template Mengacau
Tidaaaaaaaak!!!!!!!!!!
Tampilan blog-ku semakin tidak jelas saja
Awalnya, cuma berniat mengganti tampilannya
sebagai tindak lanjut dari rasa bosan akan tampilan sebelumnya
Dan, jadinya sekarang??
Tidak membosankan memang,
tapi... anehhhh!!!
untung beberapa sudah kuganti warna hijau
Semoga cepat membaik sajalah
semoga tidak membingungkanku... ^_^
Selamat Idul Adha...
Mari berbagi.... :)
Butuh Waktu Saja
Mungkin akan lebih baik jika menjauhimu
Tak menampakkan diri di hadapmu lagi
Apalagi, sudah tak ada alasan untuk itu
Sudah tak ada ruang yang memaksa kita untuk bertemu lagi
Sudah tak ada kesempatan itu lagi
Maaf, jika tingkahku sempat membingungkanmu
Saat aku tidak mempedulikan keberadaanmu
Saat aku berpura-pura tidak melihatmu
Padahal dengan jelas, ekor mataku sedang memperhatikanmu
Ah, sudahlah…
Betapapun kukatakan aku akan menyerah
Tak bisa kupaksa diriku untuk itu
Maka, akan kurelakan semuanya berjalan dengan sendirinya
Mungkin hanya butuh waktu saja,
Untuk membuktikan bahwa hadirmu tak lagi penting bagiku




